Mengenal Tradisi Kaurie Beureuat dalam Budaya Aceh Yang Di Gelar Oleh Segenap Warga MAN 1 Pidie

Kaurie Beureuat adalah salah satu kearifan lokal masyarakat Aceh, Terutama Kabupaten Aceh Pidie untuk menyambut bulan Ramadan. Kata Beureuat berasal dari kata “beureukat” yang berarti berkah. Jadi, tujuan dari Kaurie Beureuat sebenarnya adalah untuk meminta berkah dari Allah.

Akan tetapi, ada juga yang meyakini bahwa “beureuat” berasal dari kata Bara’ah dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, Kaurie Beureuat juga disebut Laylatul Bara’ah. Kaurie Beureuat digelar pada pada malam ke 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban), bulan kedelapan dalam penanggalan Islam atau Hijriah.

Kaurie atau kenduri ini sebenarnya digelar secara sederhana oleh warga MAN 1 Pidie di Mushalla Madrasah. Sejumlah Guru dan karyawan akan membawa paket makanan yang terdiri dari nasi dan lauk-pauk dalam sebuah bungkus. Sebelumnya, makanan-makanan tersebut telah dimasak dan dipersiapkan dari rumah masing-masing.

Sejumlah guru dan karyawan serta tamu undangan mendengarkan tausiah sigkat dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama, dan dilanjutkan dengan melakukan salat tasbih.

Masyarakat Pidie percaya kalau tradisi ini adalah interpretasi lokal atas kebiasaan Nabi Muhammad yang melalukan salat sunat di pertengahan bulan Sya’ban.

Masyarakat Pidie meyakini bahwa pada malam pertengahan bulan Syaban, Allah akan menentukan nasib seseorang untuk satu tahun ke depan. Oleh sebab itu, mereka menggelar Kaurie Beurat sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Allah. Sampai saat sekarang Kaurie Beureuat masih digelar secara rutin oleh masyarakat Aceh Khususnya Masyarakat Pidie.